Tampilkan postingan dengan label Sepakbola Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sepakbola Indonesia. Tampilkan semua postingan

Tidak Ada Catatan Manis Di Mesin pencari Google Untuk Nurdin Halid




Sering kali kita memanfaatkan search engine google untuk mencari Info tentang Informasi , ataupun profil seseorang atau Istilah kerenya tanya mbah Google , Hal Aneh ini terjadi pada Ketua Umum PSSI , bila kita searching dengan keyword Nurdin Halid tidak ada Profile manis tentang dirinya . yang ada hanyalah berita berita keburukanya tuntukan masyarakat untuk menuntut dia mundur.
Di dunia nyata dan dunia maya terjadi gembar gembor untuk menuntut Nurdin halid mundur , tapi NH (singkat saja ya males saya nulis nama ini) tetap bersikeras untuk bertahan dengan berbagai macam aliby yang ada.
Hanya NH lah yang bersikukuh untuk bertahan menjadi KETUM PSSI , di masa masa sebelumnya banyak KETUM yang mengundurkan diri karena kegagalan memobilitas PSSI. Dengan cara apakah NH akan mengundurkan diri? siapa yang bisa melengser jabatanya? Presiden aja tidak ada HAK , PRESIDEN FIFA juga tidak bisa yang bisa hanyalah anggota PSSI , tapi mengapa masih tetap di pertahankan? ada unsur MONEY untuk anggotakah? kita lihat sepakterjangnya ke depan.
Read Full...

Kadipolo, cinta anak-anak Arseto.

Ricky Yakobi tak kuasa menahan emosi. Dadanya terasa sesak setiap kali melihat bangunan tua yang tak terawat itu. Matanya menerawang ke berbagai sudut bangunan. Juga ke lapangan bola yang rumputnya tak lagi hijau.


Di sana, 14 tahun lalu, selama hampir 11 tahun, Ricky bergabung bersama Arseto Solo. Di mes Kadipolo, bangunan tua yang terletak di Kampung Panularan itu, Ricky bersama teman-temannya –Eddy Harto, Nasrul Koto, Inyong Lolombulan, dan Yunus Muchtar–menikmati hari-hari indah di Kadipolo.

“Kami terus menikmati malam di Kadipolo setelah Arseto menang di Stadion Sriwedari Solo,” kata Ricky. “Di sana pula kami bersedih ketika Arseto kalah,” kata Ricky lagi.

Mes Arseto atau lebih dikenal dengan mes Kadipolo adalah bekas Rumah Sakit Kadipolo. Rumah sakit ini letaknya di jalan Dr Radjiman atau kawasan Panularan. Bangunan ini berada di atas tanah seluas 2,5 hektare dan didirikan pada masa pemerintahan Paku Buwono X. Awalnya, bangunan ini dibangun khusus untuk poliklinik para abdi dalem kraton.

Pada 1976, terjadi pemindahan pasien Rumah Sakit Kadipolo ke Rumah Sakit Mangkubumen dan di sana berdiri Sekolah Pendidikan Keperawatan. Tapi kampus ini hanya bertahan lima tahun dan terjadi pengosongan Rumah Sakit Kadipolo. Sejak 1985, bangunan-bangunan tua itu menjadi milik Arseto sebagai mes pemain.

Arseto berdiri di Jakarta pada 1978. Klub milik Sigit Harjojudanto itu tidak didaftarkan sebagai anggota klub Persija, home base-nya pun dipindah ke Solo pada 1983. Arseto diambil dari potongan nama dua anak Sigit, yaitu Ario dan Seto.

“Kami langsung diterima masyarakat Solo,” kata Danurwindo, pelatih Arseto (1983-1989). “Tidak hanya diterima, kami begitu dicintai.”

Arseto tumbuh besar dan dicintai. Apalagi setelah anak-anak Kadipolo itu menjuarai Piala Liga 1987 dan Galatama 1992. Cinta masyarakat Solo begitu membekas di hati Ricky. Apalagi ketika Ricky merasa Arseto dan Solo telah membesarkan namanya. Dari gedung Kadipolo pula, pada 1989, Ricky berangkat ke Jepang memperkuat Matsushita sebagai pemain pinjaman. “Kenangan Kadipolo terlalu indah untuk dilupakan,” kata Ricky. “Kami bercengkerama di sana,” kata Ricky lagi.

Arseto tidak hanya melambungkan Ricky, pemain yang mengawali karier sepak bola di Kebun Bunga Medan. Arseto juga dikenal sebagai salah satu pionir berdirinya Liga Sepak Bola Utama atau Galatama pada 8 November 1978. Satu tahun kemudian, 17 Maret 1979, partai perdana Galatama digulirkan. Nama Sigit berdiri bersama para pemilik klub, sebut saja F.H. Hutasoit (Jayakarta), Benny Mulyono (Warna Agung), Benniardi (Tunas Inti), dan A. Wenas (Niac Mitra).
Seperti pengakuan Ricky dan Danurwindo, Solo seketika semakin hidup ketika di sana hadir Arseto, klub yang kemudian dibubarkan Sigit, pendirinya.

Klub Arseto boleh saja bubar. Tapi nama Arseto dan Kadipolo tak akan pernah terkubur. Di sana, di bangunan tua itu, cinta masih bersemi. Kemarin, Edward Tjong, anak lelaki Harry Tjong, mantan kiper tim nasional, dan Yunus Muchtar, dua pilar Arseto, masih terlihat bersenda gurau di sana.

Menurut Edu, begitu Edward Tjong dipanggil, Kadipolo tak akan pernah terlupakan. “Masih ada sore-sore yang kami lewatkan di sini bersama Nasrul Koto, Rochi Putiray, dan Benny van Brekln,” kata Edu. (catatan sam naeev di facebook)






Read Full...

Problem Dana Klub-klub Sepak bola Indonesia

Andai Bisa, Mencuri pun Oke

Dana menjadi masalah klasik bagi klub sepak bola di Indonesia. Ketika upaya mendapatkan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dipersempit, mereka pun berteriak lantang.

---

SALAH satu ketentuan dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri alias Permendagri 59/2007 memantik kontroversi. Ada yang menafsirkan bahwa ketentuan itu melarang penggunaan APBD sebagai sumber dana bagi tim sepak bola profesional. Tapi, ada juga yang menafsirkan lain.



Alhasil, praktik di lapangan pun berbeda-beda. Tidak semua tim lantas berhenti menggerogoti APBD. Beberapa daerah memutuskan tetap mengucurkan uang rakyat itu untuk tim sepak bola. Tak pelak, kondisi tersebut memantik kecemburuan daerah lain.

''Sebenarnya, masalah sepak bola kita itu bukan pada boleh tidaknya memakai APBD. Tapi, yang menjadi masalah adalah sebagian boleh menggunakan APBD, sebagian lain tidak boleh,'' kata Manajer PSIS Semarang Yoyok Sukawi.

Karena multitafsir, tidak semua tim berani menggunakan APBD. Wali Kota Surabaya Bambang D.H. sebenarnya siap mengucurkan Rp 20 miliar untuk membiayai Persebaya Surabaya. ''Asal, payung hukumnya jelas,'' ucap Bambang.





Beberapa tim memang berhenti menyusu pada APBD. Tapi, beberapa tim lain tetap bergantung pada uang rakyat itu. Sebut saja Persiwa Wamena, Persisam Samarinda, Persela Lamongan, dan Persema Malang.

Kesenjangan pun terjadi. Di satu sisi, beberapa tim berjuang keras untuk ngirit dan mandiri. Mereka harus berkutat dengan masalah finansial untuk mengarungi glamornya kompetisi. Di sisi lain, ada klub yang tak segan jorjoran pemain. ''Kalau kami berkompetisi dengan lawan yang masih didukung APBD, itu tidak adil. Kami berperang dengan lawan yang amunisinya berbeda,'' tutur Yoyok.

Tengok saja perhelatan Indonesia Super League (ISL) musim pertama lalu. Kesenjangan antartim begitu terlihat. Persipura Jayapura melenggang ke tangga juara dengan modal Rp 25 miliar. Jumlah itu lebih dari enam kali kekuatan uang PSIS Semarang. Dengan modal hanya Rp 4 miliar, Mahesa Jenar -julukan PSIS- akhirnya menjadi juru kunci dan terdegradasi.

Karena itu, Yoyok menegaskan perlunya aturan yang menyeragamkan perspektif penggunaan APBD. ''Lebih baik dibuat aturan yang jelas. Kalau boleh (menggunakan APBD), bolehnya yang bagaimana. Kalau tidak boleh, ya bagaimana. Jadi, tidak saling menyalahkan,'' katanya.

Terkait hal itu, PSSI berencana mengeluarkan manual liga sebagai pedoman tim-tim dalam mengarungi kompetisi. Dalam manual tersebut, ada batasan penggunaan APBD untuk belanja pemain. Pemain papan atas yang berpredikat nasional, misalnya, boleh disubsidi APBD maksimal 500 juta. Pada level yang lebih bawah, harga pemain akan mengikuti.

''Kalau pemain dihargai lebih mahal, terserah klub untuk menambah dari mana,'' kata Direktur Badan Liga Sepak Bola Indonesia (BLI) Joko Driyono. Dia pun menegaskan, tak ada larangan terhadap klub untuk mencari sumber dana. ''Kalau mencuri pantas, sah-sah saja,'' katanya. Dengan hitungan tersebut, klub membutuhkan anggaran Rp 10 miliar sampai Rp 15 miliar selama satu musim kompetisi.

Meski demikian, Joko optimistis bahwa kompetisi mendatang lebih berkualitas dan klub bisa menjalankan organisasinya dengan baik. Secara tidak langsung, keberadaan manual liga diharapkan menjadi referensi adanya perubahan.

''Kami menangkap, Depdagri membutuhkan referensi agar peraturan yang mereka keluarkan bisa sinkron dengan perkembangan sepak bola nasional,'' katanya





Read Full...

Lengkap sudah penderita'an sepakbola di Indonesia

Jum'at pagi tepat pukul 07.40 WIB bom meledak di hotel JW Mariot dan Ritz carlton Hotel. Beberapa korban berjatuhan baik dari WNA maupun WNI, letusan Bom tersebut sangat mengguncang hati masyarakat indonesia.
Hotel Ritz Calton adalah hotel yang akan di tempati club setan merah Manchaster United yang pada hari senin nanti akan melaksanakan pertandingan exebisi melawan tim Indonesia ALLSTAR. Setelah kejadian tersebut Manchaster United meng urungkan niatnya untuk bertandang ke Indonesia.
Tentu saja kejadian ini tidak hanya mencoreng pihak keamanan di Indonesia tapi juga mencoreng induk organisasi terbesar sepak bola indonesia PSSI. Di sa'at di rundung isu pengunduran diri dari beberapa club club sepakbola Indonesia yang terbentur masalah dana dan berbagai masalah tentang sepakbola Indonesia, lengkap sudah nama PSSI tambah tercoreng bahkan di mata dunia.
Tim Indonesia Allstar sendiri ternyata pada sa'at itu juga menginap di Hotel JW Mariot tapi alhamdulilah punggawa punggawa timnas selamat dari maut di karnakan sebelum kejadian para pemain timnas berangkat menuju pemusatan latihan.
Tidak hanya mengecewakan bagi para pemegang tiket MU yang dengan susah payah mencari tiket kejadian ini juga
membawa badai yang menerjang pemerintahan di Indonesia.
Dengan demikian akankah Indonesia bisa menjadi tuan rumah piala dunia 2022 nanti yang kita damba dambakan, dan kejadian apalagi yang akan menggugah hati Nurdin Halid, kita tunggu saja.








Read Full...

Siapapun yang menduduki RI 1,Persepak bola'an Indonesia tolong di perhatikan

9 juli 2009, rakyat indonesia datang berbondong bondong menuju tempat pemungutan suara atau TPS. Saya sendiri kehilangan hak pilih saya karena saya tidak terdaftar di DPT DKI Jakarta dan saya masuk di DPT kota madya dati II Surakarta.
Ada 3 pasangan calon yang di pilih oleh rakyat antara lain no.1 Mega-Prabowo,2 SBY-Boediyono,3 JK-Wiranto. Dari ketiga pasangan tersebut sudah melakukan kampanye ke berbagai daerah dan sampai sampai kampanye tersebut memakan korban aset berharga Persepak bola'an kita yaitu Rumput stadion Gelora Bung Karno(GBK).
Siapapun yang terpilih nanti kami harapkan bisa mengemban amanat rakyat dan dapat membuktikan semua janji janjinya selama kampanye, Rakyat sudah bosan dengan janji janji,semua menebar janji perubahan sebagai senjata yang paling utama.
5 tahun lalu kampanye juga menebarkan janji janji perubahan dan sampai 5 tahun mendatang apakah perubahan akan di pakai senjata yang paling ampuh untuk berkampanye.
Dan juga kami menghimbau kepada siapapun yang terpilih harap memperhatikan nasib atlet atlet yang pernah mengharumkan nama bangsa dan juga agar memajukan persepak bola'am di Indonesia, mengingat Sepakbola adalah olahraga paling faforit di indonesia dan merupakan ujung tombak untuk Ke utuhan NKRI.
Semoga apa tulisan saya dapat di baca oleh siapapun presiden terpilih nanti.
Artikel ini dibuat di atas genteng tempat tinggal saya di jakarta via media operamini dengan menggunakan hp nokia 6600.
MAJU TERUS PERSEPAKBOLA'AN INDONESIA. Ghandhend



Read Full...
 

Labels

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani
Mobile Edition
© Selamat Datang Di Dunia Ghandhend Copyright by Dunia Ghandhend | Terimakasih atas kunjungan andi di Dunia Ghandhend | Jangan segan dan sungkan untuk kembali lagi Salam Damai Suporter Indonesia